Indonesia dan Kesehatan Masyarakat

Oleh : Trisasi Lestari (Alumni Umea University)

*dipresentasikan pada Sharing Session 4 : Public Health dan Bio-Informatika

*sharing session 4

Jika hendak membicarakan kesehatan masyarakat di Indonesia, maka kita dapat melihatnya dari berbagai sisi, tentang produk kesehatan, kerja sama lintas disiplin dan juga tentang diberlakukannya BPJS oleh pemerintah. Faktor tersebut yang turut berperan mempengaruhi wajah kesehatan masyarakat di Indonesia.

Ada beberapa hal yang menyebabkan perkembangan kesehatan masyarakat di Indonesia seolah-olah jalan di tempat. Salah satunya adalah Indonesia masih sangat tergantung pada produk kesehatan impor. Lebih dari 95% produk kesehatan, termasuk obat yang beredar di Indonesia adalah produk impor. Ini menyebabkan biaya kesehatan yang mahal. Biaya kesehatan di India dan Cina saat ini bisa jauh lebih murah karena banyak produk kesehatan yang diproduksi sendiri. Bahkan India dan Cina sudah menjadi eksportir produk medis.

Hal lain yang menyebabkan rendahnya produksi bahan medis lokal adalah karena kurangnya penelitian yang berfokus pada produk tepat guna. Banyak penelitian bagus dari berbagai universitas yang hanya berakhir sebagai tesis, deskripsi, atau naskah publikasi. Bukan karena mutu peneliti atau penelitiannya yang rendah, tetapi karena belum ada sistem yang adekuat untuk mendukung pengembangan inovasi hasil karya anak bangsa sehingga bisa dinikmati oleh masyarakat luas. Diperlukan kerjasama yang saling menguntungkan antara universitas-industri-dan pemerintah, yang sering dikenal juga dengan kolaborasi Academic Business Government (ABG).

Ada satu hal penting yang menjadi Ppnyebab rendahnya inovasi bidang kesehatan lainnya, yaitu kurangnya kerjasama antara peneliti peneliti dari bidang kesehatan dengan peneliti di bidang teknik, MIPA, atau bidang lainnya. Dengan kata lain belum adanya kolaborasi antar bidang penelitian. Orang kesehatan tahu kebutuhannya tetapi tidak bisa membuatnya, sementara orang teknik bisa membuat tetapi tidak tahu kebutuhan orang kesehatan. Pengembangan penelitian multi disiplin yang berbasis produk bisa menjadi langkah awal untuk meningkatkan kemandirian Indonesia dalam hal penyediaan bahan dan alat medis.

Era BPJS yang sudah berjalan selama 1 tahun ini juga menjadi tonggak perubahan. Seluruh tenaga medis dan penyedia pelayanan kesehatan dipaksa untuk berubah. Standar pelayanan kesehatan diterapkan, permintaan kesehatan terus meningkat, jumlah RS baru juga terus menerus bertambah. Setelah era BPJS, dalam 6 bulan dibuka lebih dari 230 RS baru, atau 1 RS setiap 2 hari. Ini adalah peluang bisnis bagi industri. Misalnya saja, setiap RS membutuhkan instalasi pengolah limbah. Salah satu inovasi pengolah limbah yang baru saja memenangkan kompetisi Smart Living bisa dikembangkan sehingga bisa digunakan di lebih dari 9000 Puskesmas, dan ribuan lagi klinik dan RS.Tentu saja dibutuhkan dukungan industri dan pemerintah untuk pengembangannya.
Telemedicine juga bisa dikembangkan, mengingat geografi indonesia yang berpulau pulau dengan distribusi tenaga medis dan fasilitas kesehatan yang tidak merata. Kemudahan mengakses fasilitas kesehatan bisa sangat membantu menyelamatkan jiwa dan meningkatkan taraf hidup kesehatan masyarakat Indonesia. Mimpi ini sudah lama ada, tapi belum juga terwujud dengan sempurna. Tentu saja pengembangan sistem ini tidak bisa dikerjakan sendiri oleh dokter atau tenaga medis karena para dokter tidak terlatih di bidang ini. Kerja sama lintas disiplin dengan para ahli yang bergerak di bidang teknologi informatika sangat berperan dalam menentukan keberhasilan

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s